Sunday, January 6, 2013

Rindu Untuk Ayah...


Titip Rindu Buat Ayah 
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm… 
Meski nafasmu kadang tersengal 
memikul beban yang makin sarat 
kau tetap bertahan 

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini 
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan 
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari 
kini kurus dan terbungkuk hm… 
Namun semangat tak pernah pudar 
meski langkahmu kadang gemetar 
kau tetap setia 

Ayah, dalam hening sepi kurindu 
untuk menuai padi milik kita 
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan 
Anakmu sekarang banyak menanggung beban 

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini 
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan 
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari 
kini kurus dan terbungkuk hm… 
Namun semangat tak pernah pudar 
meski langkahmu kadang gemetar 
kau tetap setia 

Malam ini teringat kidung ini. membuat tiba-tiba rindu dengan ayah. wajahnya bermunculan di benakku. ah.... ayah... afwan jiddan, akhir-akhir ini aku hampir tak pernah melihatmu, walau hanya sekedar menatapmu. semoga engkau baik-baik saja di sana. aku sangat rindu padamu ayah...... tangisanku tak bisa kubendung dengan mengingatmu. aku rindu bersamamu... rindu mendengar ceritamu.. rindu melihat perjuanganmu... rindu dengan ketegaran dan kasih sayangmu...

Ayah.. mungkin aku bukanlah anak yang amat berbakti padamu. aku belum bisa berada di dekatmu, merawatmu, menjadi teman berbagimu di saat usiamu makin senja. aku masih berada di sini. masih berusaha mengejar impian dan semoga kelak engkau bisa berbangga kepadaku ayah....

Hampir setahun aku tak pernah melihat wajahmu. melihat guratan usia yang makin jelas di wajahmu. ketegaranmu kini tertutupi oleh guratan itu, membuat tubuh yang dulu kuat kini semakin kurus dan mulai tak sekuat dulu lagi. rambutmu pun bagai barisan ilalang putih. namun satu hal, engkau masih setegar dulu.. usia tak membuatmu rapuh dan mengeluh akan hidup. aku ingin belajar kesabaran darimu...

Terpaan di waktu kecil memberi banyak manfaat bagiku. aku belajar untuk punya idealisme dan memegang erat idealisme itu. aku tahu engkau adalah sosok yang teguh mempertahankan apa yang menurutmu benar. engkau tak peduli apa kata orang, tak pusing dengan embel-embel dunia hanya demi melunturkan sebuah idealisme. dengan dirimu yang seperti itu, aku tahu banyak cerita tentang idealisme-mu. walaupun mungkin bagi orang engkau terkesan keras, namun bagiku itu adalah bentuk kekonsitenanmu pada idealisme yang engkau yakini. ayah.. aku belajar darimu akan semua itu...

Ku ingin mengenang masa kecil bersamamu. Engkau yang selalu aku segani. sosok yang diam tanpa banyak bicara namun penuh dengan pelajaran bagi kami. Tiap hari walau harus memenuhi amanahmu di sekolah, namun masih ada kesempatan untuk membuatkan bubur untuk kami. aku ingat, bubur kegemaranmu adalah bubur daun kelor. aku suka... dan kami pun akan berebutan demi untuk mendapat bubur buatanmu. engkau ayah yang juga jago masak bagiku...


Satu hal yang selalu kami tunggu ketika siang telah tiba. kami akan selalu menunggu di balik jendela melihat sisi jalan, apakah engkau telah pulang. kami akan berebutan kapur yang selalu engkau selipkan di kantong baju. walaupun mungkin adalah kapur yang sudah patah sekalipun, namun betapa gembiranya kami. apalagi jika mendapatkan kapur warna. betapa girangnya... dan setelahnya, kami pun berlarian menuju papan tulis untuk mencoret-coret atau menulis apa saja. menoreh sebuah tanda bahwa engkau amat peduli pada kami. belum lagi, saat kami tertidur di lantai atau di depan papan tulis tua yang selalu menemani kami atau karena hujan turun sangat deras, dan percikan airnya akan masuk ke rumah sederhana kita di balik atap rumbia, engkau akan tersenyum mendapati kami tertidur pulas. engkaupun menggendong kami menuju tempat tidur.ayah... kesabaranmu selalu ku ingat. betapa sabar engkau menghadapi hidup. 

Ayah.. aku rindu kebersamaan kita hampir di setiap malam. duduk di pinggir sisi jalan depan rumah kita, bercerita, tertawa, mengajarkan pelajaran hidup, nada kehidupan sambil tengadah ke langit yang bertaburan bintang. kita selalu memandang langit yang begitu indah dengan jutaan bintang di sana. dan aku tahu, jika memandang langit di malam hari, aku akan slalu mengingatmu. karena kisahmu akan mengalir seiring kesunyian malam dan tengadah kita pada bintang-bintang jauh di sana. bintang menjadi saksi, betapa kita dulu slalu bersama dan bercerita. 

Aku juga ingat, karena rumah kita dekat dengan gunung. sehingga ayah selalu pergi ke gunung walau hanya sekedar jalan-jalan melihat kebun orang atau mengambil kayu bakar. dan aku suka menemanimu mendaki gunung untuk mendapatkan kayu bakar. walaupun engkau selalu melarangku. tapi pikirku, aku juga ingin membantu, walaupun mungkin hanya sebiji dua biji yg bisa kubawa, tapi membantumu sangat menyenangkan buatku. aku belajar rendah hati darimu. walaupun engkau seorang guru, namun sama sekali tak membuat ada malu pada dirimu menjajaki gunung mengambil kayu bakar. aku bangga padamu ayah......
Di sini, saat kesunyian menyapa dan kidung itu terdengar. aku semakin merindukanmu. aku sadar, terlalu lama rasanya tidak menemuimu, tidak melihatmu.. ah.. betapa rindu ingin di dekatmu, melihat wajahmu dan berbuat untukmu. Ayah.. maafkan aku.. semoga kelak, aku bisa berbalas menjagamu, menemanimu, dan membuatmu selalu tersenyum. Rabb... rahmati ayahku... panjangkan umurnya.. dan sayangilah ayahku... Merindukan ayahku......

No comments:

Post a Comment